Perjalanan Menikmati Getuk Nyimut dan Kopi Muria di Lereng Gunung Muria: Sebuah Pengalaman Kuliner yang Menghangatkan Jiwa

Ada kalanya kita merasa penat dengan rutinitas harian yang terasa monoton. Bisingnya lalu lintas kota, deretan pekerjaan yang seakan tak pernah habis, serta suasana yang penuh polusi membuat tubuh dan pikiran menjerit minta istirahat. Bagi saya, salah satu cara terbaik untuk mengembalikan semangat adalah dengan pergi ke tempat yang menawarkan udara segar, pemandangan hijau, dan tentu saja — kuliner khas yang memanjakan lidah.
Kali ini, pilihan saya jatuh pada Gunung Muria di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Selain terkenal dengan keindahan alamnya, daerah ini juga menyimpan berbagai kuliner unik, salah satunya Getuk Nyimut dan Kopi Muria.

Pagi yang Cerah Menuju Gunung Muria
Hari Minggu pagi, langit tampak bersih dari awan tebal. Matahari menebar sinarnya dengan hangat, tetapi hawa masih terasa sejuk. Saya memutuskan untuk berangkat agak pagi agar bisa menikmati perjalanan dengan santai. Motor saya pacu perlahan melewati jalanan yang semakin lama semakin menanjak.
Udara mulai berubah; aroma dedaunan basah bercampur tanah pegunungan menyeruak. Di kiri dan kanan jalan, terbentang kebun kopi, ladang sayur, dan sesekali terlihat warga yang berjalan membawa hasil panen mereka. Suasana seperti ini selalu membuat saya merasa damai.
Di beberapa tikungan, pemandangan semakin memukau. Terlihat lembah hijau luas, rumah-rumah penduduk yang tersebar, dan suara burung yang saling bersahutan. Perjalanan ini seakan memberi jeda untuk benar-benar bernapas dalam-dalam dan mengingat bahwa dunia ini masih punya sisi yang tenang.

Warung Getuk Nyimut yang Mengundang
Setelah sekitar 40 menit berkendara, saya sampai di sebuah warung sederhana namun cukup mencolok karena papan kayu di depannya bertuliskan:
“Getuk Nyimut – Kopi Muria”
Warung ini tidak terlalu besar, namun ramai oleh pengunjung. Ada yang sekadar mampir, ada pula yang duduk santai sambil bercengkerama. Aroma kopi menyeruak dari dapur, membuat langkah saya otomatis mempercepat menuju meja kosong.
Saya langsung memesan dua hal yang menjadi tujuan utama perjalanan ini: Getuk Nyimut tanpa kelapa dan Kopi Muria panas. Sambil menunggu pesanan, mata saya menelusuri sekeliling warung. Dindingnya terbuat dari papan kayu, lantainya dari semen, dan beberapa meja kursi terbuat dari kayu jati yang tampak kokoh. Dari jendela terbuka, saya bisa melihat hamparan kebun kopi di kejauhan.

Getuk Nyimut: Lembut, Manis, dan Menggoda
Tidak lama kemudian, pesanan saya datang. Getuk Nyimut disajikan di atas piring kecil dengan potongan rapi berbentuk bulat mirip bola kecil. Tanpa kelapa parut, tampilannya terlihat bersih dan sederhana, dengan warna-warna cantik sesuai varian rasa: kuning untuk rasa original, cokelat tua untuk varian cokelat, dan sedikit ungu untuk rasa ubi.
Saya mencoba potongan rasa original terlebih dahulu. Teksturnya begitu lembut saat digigit, manisnya pas, dan aroma singkongnya terasa alami. Kemudian saya beralih ke varian cokelat; rasanya memadukan cita rasa tradisional singkong dengan sentuhan modern dari bubuk kakao yang manis-pahit. Rasa ubi memberikan kesan manis alami dengan aroma khas yang menenangkan.
Hal yang membuat saya terkesan adalah meski tanpa taburan kelapa parut, rasa getuk ini tetap kaya dan memuaskan. Tanpa kelapa, manisnya terasa lebih murni, dan teksturnya semakin halus di mulut. Saya bahkan berpikir, varian ini justru lebih cocok untuk generasi muda yang ingin jajanan tradisional dengan sentuhan modern.

Kopi Muria: Teman Sempurna di Udara Sejuk
Di samping piring getuk, segelas Kopi Muria panas mengepulkan uap. Aromanya kuat, khas biji kopi yang ditanam di tanah pegunungan. Saat saya menyeruputnya perlahan, rasa pahitnya terasa mantap namun tidak menusuk. Ada sedikit sensasi manis alami di ujung lidah yang membuatnya seimbang.
Menikmati kopi ini di tengah udara pegunungan yang sejuk benar-benar memberikan sensasi berbeda dibanding menyeruput kopi di kota. Setiap tegukan seakan menghangatkan tubuh sekaligus membuat pikiran jernih. Tidak heran jika banyak wisatawan yang datang ke Gunung Muria menjadikan kopi ini sebagai oleh-oleh.

Baca Juga : Wisata Makam Sunan Muria: Perjalanan Spiritual di Puncak Gunung

Suasana yang Menghidupkan Kenangan
Sambil makan getuk dan menyeruput kopi, saya memandangi pemandangan di luar warung. Beberapa petani lewat membawa keranjang bambu berisi sayuran segar. Anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, suara mereka berpadu dengan desir angin yang melewati pepohonan.
Suasana ini mengingatkan saya pada masa kecil di desa, saat sore hari dihabiskan di halaman rumah sambil menikmati jajanan hangat buatan nenek.

Mengapa Getuk Nyimut dan Kopi Muria Wajib Dicoba
Bagi saya, perjalanan ini bukan hanya soal mengisi perut. Ini tentang pengalaman — dari perjalanan yang menenangkan, suasana alam yang menyejukkan, hingga mencicipi makanan khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Getuk Nyimut tanpa kelapa ini menawarkan rasa singkong yang autentik dengan tampilan yang lebih modern, sedangkan Kopi Muria memberi pengalaman rasa yang unik dari biji kopi lokal yang diolah secara tradisional.

Tips Berkunjung ke Gunung Muria untuk Kuliner
1. Datang di Pagi Hari – Udara sejuk dan kabut tipis membuat suasana lebih magis.
2. Gunakan Kendaraan yang Prima – Jalanan menanjak dan berliku, pastikan kendaraan siap.
3. Bawa Jaket – Meskipun siang, udara di Muria tetap dingin.
4. Siapkan Uang Tunai – Banyak warung belum menerima pembayaran digital.
5. Jangan Lupa Kamera – Pemandangan di sini sangat layak untuk diabadikan.

Perjalanan Minggu pagi saya ke Gunung Muria berakhir dengan hati yang hangat dan perut yang puas. Perpaduan Getuk Nyimut tanpa kelapa yang lembut dan Kopi Muria yang hangat menjadi simbol bahwa kuliner sederhana pun bisa memberikan pengalaman yang tak terlupakan.
Bagi siapa pun yang sedang mencari destinasi wisata kuliner di Kudus, jangan lewatkan kesempatan untuk datang ke lereng Gunung Muria. Nikmati udara segarnya, pemandangan indahnya, dan tentu saja — kelezatan kuliner khasnya.

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *